
Jakarta, 29 April 2025 — Perusahaan rintisan Tanihub yang sebelumnya dipuji sebagai pionir agritech Indonesia, kini justru menjadi sorotan negatif akibat dugaan skandal investasi besar-besaran yang melibatkan dana negara.
Pergerakan Mahasiswa dan Aktivis Indonesia (PERMAI) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera memeriksa Direktur Utama Telkom, Ririek Adriansyah, serta CEO MDI Ventures, Donald Wihardja, terkait dugaan penyalahgunaan dana sebesar Rp400 miliar yang disuntikkan ke Tanihub.
Menurut sumber internal Telkom, dana investasi tersebut diduga mengalir ke sejumlah proyek fiktif yang tidak memberikan pengembalian sebagaimana dijanjikan.
Akumulasi utang, dugaan fraud internal, serta salah urus keuangan disebut menjadi pemicu utama runtuhnya operasional Tanihub.
Kini, proyek yang sempat digadang-gadang memperkuat sektor pertanian itu bubar total dan menyisakan kerugian negara.
Tanihub sendiri sempat menarik perhatian investor kala mengamankan pendanaan Seri B sebesar US$65,5 juta atau sekitar Rp942 miliar pada tahun 2021, dipimpin oleh MDI Ventures—lengan investasi Telkom—dan didukung oleh Telkomsel Mitra Inovasi, BRI Ventures, serta Vertex Ventures. Namun, dalam kurun waktu kurang dari empat tahun, seluruh optimisme itu sirna.
PERMAI menyampaikan lima tuntutan, termasuk desakan agar KPK segera memanggil, memeriksa, dan bahkan menahan Ririek Adriansyah dan Donald Wihardja, serta meminta Menteri BUMN segera mencopot keduanya dari jabatan.
Mereka juga menuntut pengusutan tuntas proyek-proyek fiktif lain yang diduga terjadi di lingkungan Telkom Group.
“Kami mendukung cita-cita Presiden Prabowo dalam memberantas koruptor. Dugaan skandal ini bukan sekadar kelalaian administratif, melainkan potensi kejahatan luar biasa yang merugikan negara,” ujar Romario, Koordinator Lapangan aksi.
Sementara itu, KPK hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait desakan pemeriksaan yang disampaikan oleh PERMAI.