banner 970x250
banner 970x250

Sambut Sumpah Pemuda, Mahasiswa Lintas Kampus Bahas Tantangan Generasi Muda

Redaktur M Filky
19 Okt 2026 16:02
Berita 0
4 menit membaca

Jakarta – Menjelang Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober, mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Pamulang (Unpam), dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Berbeda Gagasan, Satu Tujuan: Memperkuat Persatuan Indonesia, Menyambut Momentum Sumpah Pemuda”. Kegiatan tersebut berlangsung di Caffe Warung Jambu, Jakarta Selatan, Senin (19/10/2026).
Diskusi ini digelar untuk merefleksikan kembali makna Sumpah Pemuda sebagaitonggak persatuan bangsa sekaligus membahas peran generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman. Sejumlah isu menjadi perhatian, mulai dari polarisasi sosial, penyebaran hoaks, perkembangan teknologi digital, hingga pentingnya kolaborasi lintas organisasi dan latar belakang.
Narasumber dari PKM Bunga Rampai UIN Jakarta, Hakim Satria, menyoroti perjalanan persatuan pemuda Indonesia sebelum 1928 yang masih diwarnai semangat kedaerahan hingga lahirnya tiga ikrar Sumpah Pemuda.

Menurut Hakim, persatuan tidak berarti menyeragamkan perbedaan. Pemuda dengan latar belakang suku, bahasa daerah, dan agama yang berbeda tetap dapat membangun kesepakatan untuk mencapai tujuan bersama.
“Persatuan bukan berarti menyeragamkan, melainkan para pemuda yang berbeda suku, bahasa daerah, dan agama dapat bersepakat pada tujuan bersama sesuai nilai Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan semangat persatuan dengan ajaran Islam yang mendorong umat untuk berpegang teguh pada tali agama serta saling mengenal di tengah keberagaman manusia.
Hakim menilai, menghadapi tantangan saat ini, pemuda perlu mengambil langkah nyata, antara lain menyaring informasi sebelum menyebarkannya, berkolaborasi lintas organisasi, menghargai perbedaan, dan menghasilkan konten positif di ruang digital.
Sementara itu, Ketua Umum FKPU Unpam, Syarif, menekankan pentingnya peran pemuda dalam memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendorong kemajuan bangsa. Menurutnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kebijaksanaan generasi muda dalam menggunakannya.
“Pemuda tidak hanya menjadi pengguna teknologi atau sekadar penonton di tengah perkembangan zaman, melainkan harus tampil sebagai penggerak perubahan, pencipta inovasi, serta penentu arah masa depan bangsa,” kata Syarif.
Ia mengatakan, teknologi merupakan alat yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan bersama. Karena itu, pemuda perlu mengembangkan kemampuan digital yang diimbangi dengan kreativitas, produktivitas, dan karakter yang kuat.
Syarif juga mendorong generasi muda untuk menggunakan teknologi sebagai sarana berkarya, memperkuat persatuan, serta menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Narasumber berikutnya, Ketua Umum Sinergi Mahasiswa UMJ, Zalfa Adhiya S, membahas perubahan makna Sumpah Pemuda dalam konteks kehidupan modern. Ia menilai, jika dahulu Sumpah Pemuda menjadi salah satu tonggak perjuangan melawan kolonialisme, kini semangat tersebut perlu diwujudkan untuk menghadapi berbagai persoalan yang menghambat kemajuan bangsa.
Menurut Zalfa, tantangan pemuda masa kini mencakup penyebaran berita bohong, konflik politik dan SARA, perundungan, hingga ketertinggalan dalam penguasaan teknologi.
Ia menekankan pentingnya menjaga nama baik bangsa di ruang digital, menolak provokasi, serta menggunakan bahasa yang bijak ketika berinteraksi di media sosial.
Zalfa juga menyebut pemuda perlu memiliki tiga karakter utama, yakni kreatif dalam menciptakan produk dan inovasi lokal, kritis dalam menyikapi informasi, serta kolaboratif dalam menyelesaikan persoalan sosial.
“Pemuda saat ini dituntut untuk kreatif menciptakan produk atau inovasi lokal, kritis agar terhindar dari adu domba berita palsu, serta kolaboratif menyelesaikan masalah sosial,” tegasnya.
Adapun Direktur Runding Indonesia, M. Riyadh F, yang hadir sebagai narasumber dari kalangan akademisi, menegaskan bahwa Sumpah Pemuda tidak semestinya dipahami sebatas seremoni tahunan. Menurutnya, ikrar tersebut merupakan keputusan politik dan kebangsaan yang menegaskan komitmen untuk membangun identitas bersama sebagai satu bangsa.
Ia menjelaskan, pelajaran utama dari Sumpah Pemuda bukanlah menghilangkan perbedaan, melainkan membangun tujuan bersama di tengah keberagaman. Riyadh juga mengingatkan bahwa Kongres Pemuda merupakan hasil kerja kolektif berbagai kelompok pemuda, bukan semata-mata perjuangan satu atau dua tokoh.
Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk meneladani semangat kolaborasi tersebut dalam menghadapi persoalan bangsa saat ini.
Riyadh mengajak pemuda menerjemahkan ikrar kebangsaan ke dalam kebiasaan sehari-hari, mulai dari membangun pola pikir berbasis fakta, berdialog dengan kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi, hingga bekerja sama menyelesaikan persoalan nyata dan mengevaluasi dampaknya secara bersama-sama.
Melalui diskusi lintas kampus tersebut, para narasumber menekankan bahwa semangat Sumpah Pemuda perlu diwujudkan melalui tindakan konkret. Persatuan, menurut mereka, tidak cukup disampaikan melalui slogan, tetapi harus tercermin dalam sikap menghargai perbedaan, kecakapan menyikapi informasi, serta kesediaan bekerja sama demi kemajuan Indonesia.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan