banner 970x250
banner 970x250

Peringati Seabad Ali Sadikin, Fauzi Bowo Dorong Penguatan Kebijakan Seni dan Budaya sebagai Pilar Pembangunan Jakarta

Redaktur Pelaksana
17 Jul 2026 10:24
2 menit membaca

JAKARTA – Peringatan 100 tahun kelahiran mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya kebijakan pemerintah yang berpihak pada pengembangan seni dan kebudayaan. Dalam acara tersebut, mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menilai visi Ali Sadikin masih sangat relevan sebagai fondasi pembangunan Jakarta di tengah tantangan kota global.

Fauzi Bowo mengatakan, Ali Sadikin memiliki pandangan bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus dibarengi dengan penguatan karakter masyarakat melalui seni dan budaya. Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang kreatif yang memungkinkan masyarakat dan para seniman berkembang secara mandiri.

Ia mengisahkan, gagasan tersebut berawal dari pertanyaan Ali Sadikin pada 1968 mengenai hilangnya ruang berkumpul para seniman Jakarta. Dari pemikiran itulah lahir berbagai kebijakan yang menjadikan pemerintah sebagai fasilitator, tanpa mengintervensi kebebasan berekspresi para pelaku seni.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembentukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada Juni 1968 yang berfungsi memberikan pertimbangan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pembinaan kebudayaan. Selanjutnya, pemerintah meresmikan Pusat Kesenian Jakarta yang kemudian dikenal sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat aktivitas seni dan budaya nasional.

Menurut Fauzi Bowo, keberadaan TIM merupakan contoh nyata kebijakan publik yang berhasil membangun ekosistem seni. Kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga ruang kolaborasi bagi seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat untuk melahirkan berbagai karya kreatif.

Ali Sadikin juga memperkuat sektor pendidikan seni melalui pendirian Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) pada 1970. Selain itu, lahirnya Akademi Jakarta serta Lembaga Kebudayaan Betawi menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan sekaligus memperkuat identitas Jakarta sebagai kota yang berakar pada nilai-nilai budaya.

Fauzi Bowo menegaskan, di era transformasi digital, pemerintah perlu terus memperkuat kebijakan yang mendukung pelaku seni, memperluas ruang kreatif, menyempurnakan regulasi kebudayaan, serta membangun kolaborasi antara pemerintah, komunitas, perguruan tinggi, dan industri kreatif.

“Warisan terbesar Ali Sadikin bukan semata pembangunan fisik Jakarta, melainkan fondasi kebijakan kebudayaan yang hingga kini terus memberi manfaat bagi masyarakat. Menjaga dan mengembangkannya merupakan investasi strategis bagi masa depan Jakarta sebagai kota budaya yang maju, inklusif, dan berkelas dunia,” ujar Fauzi Bowo.