banner 970x250
banner 970x250

Perda Majelis Kaum Betawi: Bukan Formalitas, Tapi Penentu Masa Depan Kebudayaan

Redaktur M Filky
21 Jan 2026 16:26
5 menit membaca

Oleh: Iwan Aswan

Pelukis Betawi, Alumni LPKJ–IKJ

Gue mau ngomong pelan-pelan, tapi dalem. Supaya bisa kebaca sama semua kalangan: dari yang nongkrong di balai warga sampai yang doyan rapat di gedung tinggi.

Tulisan ini sebenernya rangkuman dari dua tulisan sebelumnya, tapi gue susun ulang dengan bahasa yang lebih jujur dan membumi.

Biar duduk perkaranya jelas. Soalnya kalo urusan Majelis Kaum Betawi terus dibikin ribet pake bahasa muter-muter, yang untung cuma birokrasi. Yang buntung tetep orang Betawi.

Intinya satu: Majelis Kaum Betawi kalo mau kerja bener buat orang Betawi—buat anak-cucu Betawi ke depan—nggak cukup diatur pake Pergub. Titik. Harus Perda.

Bukan soal gengsi, bukan soal jabatan, tapi karena kerja kebudayaan itu kerja panjang. Bukan kerja musiman, bukan kerja seremonial.

Mari kita bahas pelan-pelan.

Betawi itu bukan budaya kemarin sore. Betawi itu lahir dari sejarah manusia yang panjang—dari Proto Betawi sampai percampuran Arab, Cina, Sunda, Jawa, Melayu, Eropa—semua ketemu di Batavia.

Dari situ lahir bahasa, cara hidup, seni, adat, dan sikap hidup yang khas. Tapi ironisnya, di Jakarta hari ini, Betawi sering diperlakukan cuma sebagai figuran.

Dipanggil pas ulang tahun kota, disuruh pake baju adat, nari, main gambang kromong. Abis itu disimpen lagi. Kayak properti acara, bukan manusia hidup.

Padahal kebudayaan itu bukan kostum. Kebudayaan itu cara hidup.

Di sinilah sebetulnya Majelis Kaum Betawi bisa jadi alat penting untuk ngerawat kebudayaan Betawi secara serius. Tapi pertanyaan kuncinya: ditempatkan di mana secara hukum?

Kalo cuma lewat Pergub, posisi Majelis itu lemah. Dia cuma perpanjangan tangan kekuasaan.

Hari ini ada, besok bisa ilang. Gubernur ganti, kebijakan ganti, Majelis bisa dipretelin pelan-pelan: anggaran dipotong, peran dipersempit, ujung-ujungnya cuma ngurus acara seremonial.

Pergub itu sifatnya sementara. Kayak kontrakan. Yang punya rumah berubah pikiran, lo disuruh angkat kaki.

Kebudayaan nggak bisa hidup di kontrakan.

Kebudayaan butuh rumah sendiri, dengan pondasi kuat. Rumah itu namanya Perda.

Perda itu beda kelas. Dibikin bareng DPRD, lewat proses panjang, dan yang paling penting: mengikat lintas zaman. Gubernur boleh ganti, tapi Perda tetap berdiri.

Artinya, kalo Majelis Kaum Betawi diatur lewat Perda, posisinya jadi kuat. Nggak gampang diobok-obok, nggak gampang dijadiin alat politik sesaat.

Ada yang bilang, “Perda mah ribet, lama, kebanyakan aturan.”

Justru karena ribet, dia penting. Kebudayaan Betawi udah terlalu lama diperlakukan seenaknya.

Kalo cuma ngandelin fleksibilitas, yang fleksibel itu cuma kepentingan penguasa, bukan nasib orang Betawi.

Ada juga yang takut, katanya kalo pake Perda budaya Betawi jadi kaku, dibekukan, ditentuin satu versi doang. Kekhawatiran ini masuk akal, tapi salah sasaran. Yang bikin budaya beku bukan Perdanya, tapi isi Perdanya.

Perda yang bener bukan ngatur “Betawi harus begini”, tapi ngatur cara melindungi dan mengembangkan kebudayaan Betawi. Bikin ruang, bukan membekukan.

Kalo Majelis Kaum Betawi cuma berdiri di atas Pergub, ujung-ujungnya dia cuma jadi panitia acara. Sibuk festival, lomba, perayaan, tapi nggak punya suara di urusan penting. Padahal kebudayaan nyambung ke banyak hal: pendidikan, tata kota, ruang hidup, sejarah, bahasa, seni, sampai cara orang Betawi bertahan di Jakarta yang makin mahal dan kejam.

Faktanya hari ini:

  • Banyak anak Betawi nggak kenal sejarahnya sendiri.
  • Bahasa Betawi cuma jadi bahasa bercanda.
  • Kampung Betawi satu-satu ilang, diganti beton.

Tanpa dasar hukum yang kuat, Majelis Kaum Betawi cuma bisa protes halus—dan sering nggak didenger.

Karena itu, Perda jadi harga mati. Dengan Perda, Majelis Kaum Betawi punya mandat jelas: riset budaya, pengarsipan, pendidikan sejarah Betawi, masuk ke sekolah-sekolah, sampai ngasih masukan kritis ke pemerintah soal pembangunan. Bukan sekadar pelengkap acara, tapi mitra strategis dan kritis.

Perda juga penting buat regenerasi. Kebudayaan itu bukan barang antik, tapi ilmu hidup. Kalo anak Betawi nggak diajarin dari kecil, ya putus. Kerja lintas generasi nggak mungkin jalan kalo nasib Majelis tiap lima tahun digantung sama siapa gubernurnya.

Ada juga yang takut Majelis jadi elitis. Justru sebaliknya. Tanpa Perda, elitisme lebih gampang tumbuh.

Siapa aja bisa ngaku wakil Betawi asal deket kekuasaan. Perda bisa ngatur mekanisme keterwakilan, masa jabatan, dan pertanggungjawaban ke publik. Biar yang duduk di Majelis bukan cuma orang-orang itu-itu aja.

Betawi itu bukan minta diistimewakan. Betawi cuma minta diakui secara adil. Jakarta berdiri di atas tanah Betawi—sejarahnya, kampungnya, bahasanya.

Kalo fondasi nggak dijaga, kota bakal kehilangan arah. Kota global yang lupa asal-usul itu kota yang rapuh.

Perda Majelis Kaum Betawi adalah pernyataan moral.

  • Bahwa Jakarta nggak malu mengakui Betawi sebagai subjek, bukan objek.
  • Bahwa pembangunan nggak boleh terus-terusan ngusir orang Betawi dari ruang hidupnya sendiri.
  • Bahwa kebudayaan bukan dekorasi, tapi bagian dari kebijakan.

Kalo masih ada yang bilang Perda itu opsional, berarti dia belum paham masalahnya. Ini bukan soal cepat atau lambat, tapi soal niat. Mau serius apa nggak. Kalo niatnya setengah-setengah, cukup Pergub. Kalo niatnya bener, ya Perda.

Majelis Kaum Betawi tanpa Perda itu kayak macan ompong: ada nama, ada badan, tapi nggak punya daya. Dengan Perda, Majelis bisa berdiri tegak, bicara setara, dan kerja beneran buat orang Betawi.

Kesimpulannya jelas: Perda Majelis Kaum Betawi bukan tawar-menawar. Ini keharusan. Harga mati.

Bukan cuma buat hari ini, tapi buat masa depan—buat anak-cucu Betawi yang nanti hidup di Jakarta yang mungkin udah jauh berubah, tapi masih punya akar.

Gue nulis ini bukan karena emosi, tapi karena terlalu lama kita diajak sabar. Dan kesabaran tanpa kejelasan hukum cuma bikin kita jalan di tempat. Betawi nggak butuh janji manis. Betawi butuh pijakan.

Dan pijakan itu namanya Perda Majelis Kaum Betawi.

(IA, 20 Januari 2026 — didedikasikan untuk Majelis Kaum Betawi)