
SUARAGOVERNMENT.COM | JAKARTA – Keandalan listrik nasional tidak hanya ditentukan oleh kapasitas pembangkit, tetapi juga oleh kemampuan memastikan pasokan energi primer tersedia secara tepat waktu, aman, efisien, dan berkelanjutan.
Komisaris Utama PT PLN Energi Gas, Saiful Chaniago, menilai PLN Energi Gas memiliki posisi strategis dalam memastikan rantai pasok gas berjalan dari sumber energi hingga pembangkit. Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan gas sekaligus agenda transisi energi Indonesia.
PT PLN Energi Gas merupakan anak perusahaan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) yang bergerak pada sektor midstream gas. Kompetensi utamanya meliputi pendistribusian gas pipa dan LNG melalui jalur darat maupun laut untuk mendukung kebutuhan pembangkit dengan tingkat keandalan tinggi.
Menurut Saiful, persoalan energi di Indonesia tidak sebatas memastikan gas tersedia, tetapi juga bagaimana komoditas tersebut dapat dikirim ke wilayah yang membutuhkan dengan biaya yang wajar dan tingkat risiko yang terkendali.
“PLN Energi Gas tidak cukup hanya menjadi pengangkut komoditas. Perusahaan harus menjadi penghubung antara sumber gas, infrastruktur logistik, kebutuhan pembangkit, keterjangkauan listrik, dan arah transisi energi nasional,” demikian pandangan Saiful.
Ia menggambarkan rantai pasok gas sebagai sebuah sistem yang saling berkaitan. Sumber gas menjadi titik awal, pembangkit sebagai pengguna, sementara jaringan pipa, kapal, fasilitas penyimpanan dan regasifikasi menjadi infrastruktur yang memastikan energi dapat mengalir secara berkesinambungan.
Tantangan tersebut diperkirakan semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan gas untuk pembangkit PLN. Dalam proyeksi PLN EPI, kebutuhan gas diperkirakan meningkat sekitar 4,5 persen per tahun, dari 1.748 BBTUD pada 2026 menjadi 2.490 BBTUD pada 2034. Kebutuhan kargo LNG juga diproyeksikan meningkat dari 103 menjadi 214 kargo.
Di sisi lain, pasokan gas pipa berdasarkan kontrak diproyeksikan mengalami penurunan dari 757 menjadi 667 BBTUD. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan perencanaan, logistik dan fleksibilitas pasokan gas.
“Gas yang tersedia di satu wilayah tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila infrastruktur menuju pusat kebutuhan tidak memadai, terlalu mahal atau tidak dikelola secara aman,” ujarnya.
Saiful juga menyoroti pentingnya solusi energi yang menyesuaikan karakter geografis Indonesia. Fasilitas penyimpanan dan regasifikasi LNG, seperti yang dikembangkan di Gunung Belah, Tarakan, menjadi salah satu contoh bagaimana LNG dapat menjangkau sistem kelistrikan yang tidak terhubung dengan jaringan pipa besar.
Menurutnya, pendekatan berbasis klaster dapat menjadi alternatif bagi wilayah kepulauan sehingga pembangunan infrastruktur energi tidak selalu harus menggunakan proyek berskala besar yang berbiaya tinggi dan kurang fleksibel.
Namun, peningkatan pemanfaatan gas, lanjut Saiful, tidak boleh dimaknai sebagai pembangunan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil tanpa batas.
Arah kebijakan kelistrikan nasional justru menunjukkan peningkatan peran energi terbarukan dan penyimpanan energi. Karena itu, gas perlu ditempatkan sebagai energi penyangga yang membantu menjaga keandalan sistem ketika energi terbarukan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan secara konsisten.
“Gas bukan tujuan akhir. Infrastruktur yang dibangun hari ini harus dinilai dari kemampuannya membantu sistem bergerak menuju energi rendah karbon, bukan dari besarnya volume gas yang dapat dijual selama mungkin,” tegasnya.
Saiful juga mengingatkan bahwa penggunaan istilah gas sebagai energi bersih harus dilakukan secara hati-hati. Gas tetap merupakan bahan bakar fosil dan rantai pasok LNG membutuhkan energi mulai dari proses pencairan, pengangkutan, penyimpanan hingga regasifikasi.
Selain itu, risiko kebocoran metana harus menjadi perhatian. Karena itu, aspek lingkungan perlu dibuktikan melalui sistem pengukuran, pelaporan dan verifikasi yang kredibel.
Untuk memperkuat peran PLN Energi Gas, Saiful mendorong adanya perencanaan pasokan secara terpadu berdasarkan kebutuhan pembangkit, wilayah, musim dan waktu. Gas pipa dapat diprioritaskan ketika tersedia dan ekonomis, sedangkan LNG digunakan untuk wilayah yang secara geografis tidak efisien dilayani jaringan pipa.
Ia juga menekankan pentingnya fleksibilitas kontrak pasokan dan transportasi. Formula harga, volume, risiko kewajiban pembayaran serta keandalan pemasok harus menjadi bagian dari pertimbangan agar pengelolaan energi tetap berpihak pada kepentingan publik.
Selain itu, pengendalian emisi metana perlu menjadi salah satu indikator kinerja perusahaan. Pemantauan kebocoran harus dilakukan pada jaringan pipa, sambungan, katup, tangki, kapal maupun fasilitas regasifikasi.
Pembangunan infrastruktur gas juga harus diselaraskan dengan peta jalan energi terbarukan. Investasi baru harus berdasarkan kebutuhan riil, dilakukan secara terukur dan memperhitungkan risiko aset tidak optimal ketika penggunaan energi terbarukan dan sistem penyimpanan semakin berkembang.
Menurut Saiful, ukuran keberhasilan PLN Energi Gas tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah kargo, panjang pipa atau volume gas yang disalurkan.
“Keberhasilan harus dilihat dari listrik yang semakin andal, biaya energi yang semakin efisien, berkurangnya penggunaan bahan bakar minyak, keselamatan operasi, penurunan emisi serta manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat,” katanya.
Di sisi tata kelola, ia menilai pengadaan kapal, pembangunan terminal, pemilihan mitra dan kontrak pasokan harus mendapatkan pengawasan yang kuat. Audit berbasis risiko, pencegahan benturan kepentingan, mekanisme pelaporan pelanggaran serta pengawasan organ perusahaan harus berjalan secara efektif.
Sebelumnya, dalam kegiatan site visit Dewan Komisaris dan Direksi PLN Energi Gas di Gas Station Tanjung Batu, Samarinda, Saiful juga menekankan pentingnya keandalan operasional dan keselamatan kerja sebagai bagian dari tata kelola perusahaan. PLN EPI menyebut kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan proses bisnis berjalan optimal, aman dan andal.
Bagi Saiful, masa depan PLN Energi Gas bukan ditentukan oleh seberapa besar volume gas yang mampu dialirkan, melainkan oleh kemampuan perusahaan menjalankan fungsi strategisnya dalam menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung perubahan menuju sistem energi yang lebih bersih.
“Gas dapat menjadi jembatan yang berguna, tetapi jembatan selalu memiliki arah dan ujung. PLN Energi Gas harus memastikan setiap pipa, kapal, tangki dan terminal menjadi alat untuk memperkuat ketahanan energi, menurunkan biaya serta emisi, dan mempercepat perjalanan menuju masa depan Indonesia yang mandiri, adil dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Sumber: Saiful Chaniago
Komisaris Utama PT PLN Energi Gas