
Jakarta – Anggota DPD RI sekaligus Ketua Umum FORKABI, H. Azran, menegaskan pentingnya penguatan organisasi dan transformasi digital sebagai langkah strategis untuk menjaga eksistensi serta meningkatkan daya saing masyarakat Betawi di tengah perubahan Jakarta menuju kota global.
Menurut Azran, masa depan masyarakat Betawi harus dibangun melalui langkah yang terukur, adaptif, dan berorientasi jangka panjang. Dalam kerangka tersebut, penguatan FORKABI sebagai pusat konsolidasi masyarakat Betawi dan percepatan digitalisasi menjadi dua agenda utama yang saling melengkapi.
“Betawi merupakan suku tertua di Indonesia. Oleh karena itu, agar warisan budaya Betawi dapat terus terawat dari generasi ke generasi, dibutuhkan sebuah wadah yang kuat, yaitu FORKABI,” kata Azran dalam keterangannya, Senin (15/6).
Azran menilai FORKABI memiliki posisi strategis sebagai rumah besar masyarakat Betawi yang mampu menyatukan berbagai organisasi, tokoh, dan elemen masyarakat dalam satu arah gerak yang terkoordinasi.
Menurutnya, FORKABI tidak hanya berfungsi sebagai organisasi kemasyarakatan, tetapi juga sebagai forum musyawarah strategis lintas generasi, pusat penyelarasan agenda sosial dan budaya, representasi kolektif masyarakat Betawi dalam advokasi kebijakan publik, serta pengarah konsolidasi yang inklusif dan berkelanjutan.
“FORKABI hadir menjadi pusat representasi atau epicentrum bagi masyarakat Betawi. Momentum ini kami jadikan ajakan untuk seluruh elemen Betawi agar bersatu padu. Bersama FORKABI, kita tingkatkan harkat dan martabat masyarakat Betawi, bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di tingkat nasional,” ujarnya.
Ia menilai konsolidasi yang kuat menjadi fondasi penting untuk mengakhiri fragmentasi internal sekaligus memperkuat posisi tawar masyarakat Betawi dalam dinamika pembangunan Jakarta maupun kebijakan nasional.
Selain penguatan organisasi, Azran juga menekankan pentingnya transformasi digital sebagai instrumen kebangkitan masyarakat Betawi. Menurutnya, digitalisasi tidak sekadar memanfaatkan teknologi, melainkan menjadi sarana memperluas partisipasi masyarakat, membangun pengaruh, dan meningkatkan kapasitas generasi muda.
Beberapa agenda yang menjadi fokus digitalisasi antara lain penguatan literasi sejarah dan budaya Betawi di ruang digital, pengembangan media dan kanal komunikasi kebetawian yang profesional, pemberdayaan generasi muda melalui pelatihan teknologi dan kewirausahaan digital, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
“Kehadiran yang kuat di ruang digital menjadi faktor penting agar budaya Betawi tetap relevan, dikenal luas, dan mampu beradaptasi dengan perubahan sosial maupun ekonomi yang berlangsung sangat cepat,” katanya.
Dalam pandangannya, FORKABI ke depan harus dibangun sebagai organisasi yang profesional, adaptif, inklusif, dan progresif. Ia menegaskan bahwa legitimasi organisasi harus lahir dari konsensus kolektif masyarakat Betawi, bukan dari kepentingan kelompok tertentu.
Azran juga menekankan pentingnya menjaga independensi organisasi agar mampu bertahan lintas rezim dan tetap menjadi representasi yang kredibel bagi masyarakat Betawi. Menurutnya, kekuatan FORKABI harus bertumpu pada legitimasi sosial, legitimasi hukum, dan legitimasi representatif yang mampu mengakomodasi keberagaman unsur masyarakat Betawi.
“Legitimasi yang tumbuh dari bawah akan jauh lebih kuat dan tahan lama. FORKABI harus dibangun melalui kesepakatan kolektif, mengedepankan musyawarah, partisipasi generasi muda, serta tetap menjaga independensi demi kemajuan masyarakat Betawi,” pungkasnya.