Tangkap layar. [Foto/Ist]SUARA GOVERNMENT – Media sosial X ramai memperbincangkan dugaan kejanggalan dalam pemberian kredit investasi oleh Bank Negara Indonesia (BNI) kepada PT Solusi Digital Bersama atau Surge Wifi. Isu ini mencuat setelah selebritas media sosial Mazzini (@mazzini_gsp) mengungkapkan bahwa pinjaman senilai Rp 978 miliar yang diberikan kepada PT Surge terbilang mencurigakan.
Dalam cuitannya, Mazzini menyoroti rasio utang PT Surge terhadap ekuitas yang meningkat hingga 2,6 kali setelah menerima pinjaman tersebut. Ia juga mempertanyakan kelayakan perusahaan yang berkantor di sebuah ruko di Jalan RS Fatmawati Raya No. 329 untuk mendapatkan pinjaman hampir Rp 1 triliun dari bank BUMN.
“Jadi inget pernah baca berita Bank BNI kasih kredit untuk PT Surge Rp 978 Miliar (hampir 1 Triliun), tapi kalau PT Surge di-googling lalu liat lokasi perusahaan itu jadi kurang meyakinkan karena berbentuk bangunan ruko. Jadi mikir kok bisa dikasih ya?” tulis Mazzini.
Selain itu, Mazzini juga mengungkapkan bahwa PT Surge didirikan oleh Hendrik Tee, yang namanya pernah tercantum dalam dokumen Panama Papers—skandal internasional yang mengungkap dugaan penghindaran pajak dan pencucian uang melalui perusahaan cangkang.
Perbincangan ini semakin luas setelah selebritas media sosial lainnya, Miss Tweet (@Heraloebss), menambahkan bahwa Hendrik Tee pernah digugat di Amerika oleh Frederick Peyser atas dugaan penipuan jual beli saham saat menjabat sebagai Direktur Eksekutif Keuangan di Asia Pulp And Paper.
“Dia juga pernah digugat oleh Frederick Peyser di Amerika atas gugatan penipuan jual beli saham. Hendrik Tee saat itu sebagai Direktur Eksekutif Keuangan Asia Pulp And Papers. Dia dituduh memoles laporan keuangan agar harga sahamnya mahal,” tulis Miss Tweet.
Lebih lanjut, Miss Tweet menduga bahwa pinjaman besar dari BNI ini berkaitan dengan proyek lelang Pita Jaringan 1,4 GHz di Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Proyek ini sebelumnya telah mendapat kritik dari Asosiasi Perusahaan Seluler dan Internet karena dianggap belum siap secara ekosistem.
“Monitor @KPK_RI!” pungkas Miss Tweet dalam cuitannya, menyerukan perhatian dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Hingga saat ini, pihak PT Surge dan BNI belum memberikan tanggapan resmi terkait perbincangan ini. Publik menantikan klarifikasi dari pihak terkait mengenai dugaan kejanggalan dalam pemberian kredit besar kepada perusahaan tersebut.