
MERAUKE, PAPUA SELATAN – Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University terus memetakan potensi pangan lokal yang dapat mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu komoditas yang mulai dijajaki adalah sagu dari kawasan Salor, Merauke, yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari menu MBG berbasis pangan lokal.
Penjajakan dilakukan melalui diskusi bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Merauke Mandala 2 dan SPPG Merauke Mandala 3.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memetakan kesiapan dapur MBG sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang perlu diatasi sebelum sagu dapat diterapkan dalam menu.
SPPG Merauke Mandala 2 saat ini menyiapkan sekitar 3.061 porsi makanan setiap hari untuk sembilan kelompok penerima manfaat. Sementara SPPG Merauke Mandala 3 melayani sekitar 2.900 penerima manfaat dari tujuh sekolah dan dua Posyandu.
Dalam pelaksanaannya, penyusunan menu MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi. Pihak SPPG juga harus mempertimbangkan selera penerima manfaat, ketersediaan bahan baku, kemampuan tenaga dapur, waktu pengolahan, distribusi, serta ketentuan yang berlaku.
Pihak SPPG mengungkapkan bahwa pemanfaatan pangan lokal memang telah mendapat arahan. Namun, penerapannya sejauh ini lebih banyak menggunakan komoditas seperti singkong, umbi-umbian, dan sayuran lokal.
“Dari pusat memang ada arahan untuk membuat menu pangan lokal. Selama ini kami menggunakan umbi-umbian dan sayuran, seperti singkong. Kalau menggunakan sagu, proses pengolahannya membutuhkan waktu yang lebih lama,” ungkap pihak SPPG.
Meski demikian, peluang pemanfaatan sagu masih terbuka. Salah satu hal yang perlu dipersiapkan adalah inovasi bentuk olahan agar bahan pangan tersebut dapat diterima oleh anak-anak sebagai penerima manfaat MBG.
Pihak SPPG menilai tingkat penerimaan makanan sangat beragam. Telur, ayam, dan daging menjadi sejumlah menu yang banyak diminati.
Sementara ikan lebih diminati di wilayah pesisir, tetapi tidak selalu menjadi pilihan utama bagi sejumlah sekolah di Merauke.
Perbedaan preferensi juga terjadi pada pangan lokal. Ada sekolah yang menganggap pangan lokal sudah menjadi makanan sehari-hari sehingga kurang menarik ketika kembali disajikan melalui MBG. Namun, terdapat pula sekolah yang justru menginginkan menu pangan lokal lebih banyak dihadirkan.
“Nanti perlu kami coba dulu. Sebelum menjadi menu, kami perlu mengetahui apakah mereka berkenan atau tidak,” ujar pihak SPPG.
Untuk mengetahui tingkat penerimaan menu, SPPG juga menggunakan kuesioner sebagai bahan evaluasi.
Mekanisme tersebut diperlukan agar menu yang disajikan tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga benar-benar dikonsumsi oleh penerima manfaat.
Sagu sendiri belum pernah digunakan sebagai menu utama di kedua SPPG yang menjadi lokasi penjajakan. Selain tingkat penerimaan, durasi pengolahan menjadi salah satu pertimbangan karena dapur harus mampu memproduksi ribuan porsi dalam waktu yang terbatas.
“Kami belum pernah membuat menu sagu. Selama ini lebih banyak menggunakan umbi. Sebenarnya pernah terpikirkan, tetapi kami masih mencari bentuk olahan yang lebih kreatif. Sagu harus dicoba terlebih dahulu untuk melihat penerimaannya,” ungkap pihak SPPG.
Koordinator Pengawas Dapur SPPG Provinsi Papua Selatan, Ibu Sadika, menjelaskan bahwa inovasi menu tetap harus memperhatikan rekomendasi ahli gizi dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan.
Dengan demikian, pengembangan pangan lokal tetap berjalan sesuai standar penyelenggaraan MBG.
Selain aspek gizi dan selera, tantangan operasional juga menjadi perhatian. Jarak distribusi, perbedaan jadwal sekolah, waktu pengolahan, serta kapasitas tenaga dapur harus diperhitungkan agar penggunaan sagu tidak mengganggu efektivitas pelayanan MBG.
Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University melihat kondisi tersebut sebagai ruang untuk mengembangkan inovasi sagu Salor.
Pengembangan tidak hanya diarahkan pada penyediaan bahan baku, tetapi juga bagaimana menghasilkan produk yang praktis diolah, memenuhi kebutuhan gizi, memiliki daya terima yang baik, dan dapat diproduksi dalam skala besar.
Hasil penjajakan ini sekaligus menunjukkan bahwa peluang sagu Salor masuk dalam rantai pasok pangan lokal untuk MBG masih terbuka.
Namun, diperlukan tahapan uji coba untuk menentukan bentuk olahan yang paling sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat dan kemampuan dapur SPPG.
Ke depan, pengembangan sagu Salor dapat dilakukan melalui kolaborasi antara masyarakat penghasil sagu, SPPG, ahli gizi, Dinas Kesehatan, Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University, serta pemangku kepentingan lainnya.
Jika berhasil dikembangkan secara tepat, sagu Salor tidak hanya memiliki nilai sebagai pangan khas Papua Selatan, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari inovasi pangan lokal dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi masyarakat di tingkat lokal.