banner 970x250
banner 970x250

PW MDS Rijalul Ansor Bengkulu: Tegas Menentang Tayangan Xpose Uncensored Trans7

Redaktur M Filky
16 Okt 2025 23:17
Berita 0
2 menit membaca

Bengkulu, 16 Oktober 2025 — Tayangan Xpose Uncensored yang disiarkan Trans7 menuai gelombang penolakan dari berbagai kalangan, termasuk dari keluarga besar pesantren. Di Bengkulu, penolakan datang keras dari Pengurus Wilayah Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor.

Ketua PW MDS Rijalul Ansor Bengkulu, Armin Tedy, menyebut tayangan tersebut telah meninggalkan luka mendalam bagi para kiai, santri, dan pesantren di Indonesia. Ia menilai, program tersebut hanya mengejar sensasi tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan persepsi publik terhadap lembaga keagamaan.

“Kami sangat menyayangkan tayangan itu. Tidak hanya menimbulkan persepsi negatif terhadap pondok pesantren, tapi juga berpotensi memicu konflik sosial di tengah masyarakat,” tegas Armin, dalam keterangannya di Bengkulu.

Menurutnya, televisi bukan sekadar media hiburan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial dalam membentuk opini publik. Trans7, kata Armin, seharusnya menjadi saluran yang mencerdaskan, bukan yang justru menyinggung dan melukai perasaan umat.

“Kami menuntut Trans7 untuk lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih konten yang ditayangkan. Media seharusnya menjadi jembatan penyampai pesan positif dan membangun kesadaran kolektif di masyarakat,” ujarnya.

PW MDS Rijalul Ansor Bengkulu menegaskan, protes ini bukan sekadar bentuk kemarahan, melainkan juga panggilan moral untuk menjaga marwah para kiai dan dunia pesantren. Mereka menilai, tanggung jawab media massa tidak berhenti pada rating atau sensasi, tetapi juga pada nilai dan etika publik yang dijunjung tinggi.

“Jika media lebih memilih kontroversi dibanding edukasi, maka kami dengan tegas mengutuk keras tayangan Xpose Uncensored,” kata Armin menutup pernyataannya.

Ia berharap ke depan Trans7 dapat melakukan verifikasi terbuka terhadap isi setiap konten yang akan disiarkan, memastikan tidak ada lagi tayangan yang menciderai hati umat dan mencoreng citra pesantren.

“Kami hanya berharap media kembali pada fitrahnya: menyebarkan pencerahan, bukan kebingungan,” ujarnya.