Oleh Riski Agussalim Siregar, MKM
Bakal Calon Direktur Eksekutif Bakornas LKMI PB HMIBayangkan Indonesia di tahun 2045: negeri yang berdiri megah di antara peradaban dunia, tempat keadilan sosial bukan sekadar janji konstitusi, melainkan kenyataan hidup. Setiap anak tumbuh sehat dengan gizi yang cukup, setiap ibu merasa aman melahirkan di fasilitas medis layak, dan setiap warga dari pulau terpencil hingga jantung kota mendapat layanan kesehatan bermartabat. Inilah wajah ideal sistem kesehatan: inklusif, merata, dan berakar pada keadilan. Tapi mari jujur: apakah kita sedang menuju ke sana, atau makin menjauh dari cita-cita?
Wajah Buruk yang Kita Pilih Diamkan
Terlalu banyak luka yang kita biarkan terbuka. Stunting bukan sekadar istilah teknokratik. Ia adalah wajah anak-anak yang tubuhnya tak tumbuh semestinya, yang otaknya gagal berkembang optimal karena ibunya kekurangan gizi sejak dalam kandungan. Berdasarkan Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2023, 21,5% anak Indonesia masih mengalami stunting. Itu berarti satu dari lima anak kita tumbuh dalam ketidakadilan biologis yang disengaja sistem.
Stunting hanyalah satu fragmen. Di balik angka-angka, terdapat perempuan yang meninggal saat melahirkan karena tak ada bidan di radius 30 km. Ada warga adat yang harus berjalan berjam-jam hanya untuk menebus satu strip obat demam. Ada lansia yang dibiarkan sekarat karena ambulans tak pernah datang. Sementara itu, rumah sakit elite tumbuh di pusat kota, lengkap dengan teknologi canggih dan pelayanan bintang lima.
Apakah kita lupa bahwa konstitusi menjamin hak setiap warga atas kesehatan? Pasal 28H UUD 1945 menyebutkannya dengan tegas. Tapi di Papua, NTT, Kalimantan pedalaman, dan pulau-pulau terluar, hak itu tak lebih dari retorika.
Sistem yang Sakit: Ketimpangan yang Diinstitusikan
Ketimpangan kesehatan di Indonesia bukanlah kecelakaan. Ia adalah hasil dari sistem yang timpang sejak perencanaan. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023 adalah tanda, bahwa pemerintah mengkhianati rakyatnya sendiri, amanat konstitusi yang mengharuskan 15% APBN agar dialokasikan untuk sektor kesehatan, namun dihapuskan demi efektivitas anggaran. Sementara negara-negara tetangga sudah melangkah ke sistem universal healthcare berbasis digital dan preventif, kita masih berkutat pada beban kuratif yang menelan biaya tinggi dan tak menyentuh akar persoalan.
Distribusi tenaga kesehatan pun menjadi ironi tersendiri. Menurut Kementerian Kesehatan, rasio dokter di Indonesia hanya 0,47 per 1.000 penduduk, jauh di bawah standar ideal WHO. Lebih dari separuh dokter terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kita menyaksikan “brain drain domestic”, ketika tenaga medis memilih tinggal di kota karena ketimpangan fasilitas, insentif, dan keamanan. Negara seolah menyerah pada logika pasar bahkan dalam urusan nyawa.
Sementara itu, kebijakan kesehatan kita seringkali reaktif, sektoral, dan penuh ego antar lembaga. Tak ada cetak biru yang benar-benar menyeluruh untuk membangun sistem kesehatan sebagai fondasi peradaban. Yang ada hanyalah tambal sulam kebijakan yang terhenti setiap kali rezim berganti.
Luka yang Tak Boleh Kita Biarkan Menganga
Masalah ini bukan milik orang lain. Ia adalah tanggung jawab moral kita bersama. Kita sedang mewarisi sistem yang gagal meletakkan kesehatan sebagai keutamaan. Kita sedang hidup dalam negara yang membiarkan sebagian rakyatnya mati perlahan, bukan karena takdir, tapi karena kelalaian kebijakan.
Ketimpangan ini bukan takdir. Ia adalah konstruksi sosial-politik yang bisa dan harus kita gugat. Jika kita terus diam, maka kita bukan hanya menyaksikan ketidakadilan, tetapi menjadi bagian darinya. Di sinilah letak panggilan suci mahasiswa, khususnya mahasiswa kesehatan: menggugat ketimpangan, mendobrak stagnasi, dan membangun ulang sistem yang lebih adil dan manusiawi.
Bangkitlah! Jadikan iman kita sebagai arah, ilmu kita sebagai senjata, dan amal kita menjadi bahan bakarnya.
Kita bukan hanya mahasiswa, kita adalah penjaga nurani bangsa. Kita bukan hanya penghafal teori, kita pewaris revolusi. Karena sudah kodrat nya Indonesia Emas tidak akan datang pada mereka yang duduk diam, ia hanya akan hadir untuk mereka yang bersedia berjuang.
Bila hati kita masih bergetar melihat ibu melahirkan di tanah lapang,
Bila mata kita masih basah menyaksikan anak kecil menahan batuk sepanjang malam,
Maka tak ada alasan untuk diam dan menyaksikan semua ini berjalan.
Bangkitlah, wahai mahasiswa kesehatan Indonesia.
Tegakkan keadilan, meski langit runtuh menimpa jalanan.
Karena Indonesia Emas tak akan datang dengan janji kosong dan rapat mewah,
Ia lahir dari tangan-tangan kita yang berani melawan lupa dan menggenggam marwah.
Yakin. Usaha. Sampai.