banner 970x250
banner 970x250

Operasi “Anggrek Tosca” Profesor Kancil di Kasus Sampah DLH Tangsel


14 Feb 2025 18:37
2 menit membaca

SUARA GOVERNMENT – kasus pengangkutan sampah di Dinas Lingkungan Hidup Tangsel bagai petir di siang bolong. Seperti tamu yang tak diundang, kedatangannya tampak tiba – tiba, tanpa persiapan matang dari tuan rumah.

Dalam sudut pandang politik, terlau naif rasanya, jika kita berpendapat bahwa ini murni kasus hukum. Benar, ada aturan hukum yang dilanggar, tapi kepiawaian “putra mahkota” harusnya bisa menutup kran yang bocor. Sepak terjang ini kan sudah diuji oleh banyak LSM – LSM yang melaporkan praktik dugaan korupsi di Tangsel, tapi semuanya berakhir mental.

Jika ini perang, maka ini bukanlah semata perang antar partai. Ada pertarungan eksistensi tokoh di dalamnya. Profesor kancil muncul ke permukaan bagai panglima perang Majapahit, Patih Gajah mada. kedatangannya membawa pesan, bahwa Banten area Kejumudan telah berakhir.

siapapun yang mengenal sang professor, pasti paham dengan gaya permainan caturnya. Ia selalu menggunakan kuda untuk menyerang lawan, sebelum akhirnya ditutup dang pedang peluncur.

Dalam aturan perang, pemenang pasti ambil alih semua. Pemenang menulis cerita baru dengan pena baru. Sedangkan yang kalah, berkewajiban membayar upeti. Dalam kasus Tangsel, nampaknya sang putera mahkota masih belum sadar bahwa ia telah kalah. Oleh karena itu, Operasi dengan sandi “anggrek tosca” yang digagas cukup berhasil untuk memberi peringatan.

Walikota terpilih harus punya penciuman tajam. Usia yang sudah demikian senja harus memliki kebijaksanaan yang lebih cakap daripada sebelumnya. Jangan biarkan diri menjadi martir selanjutnya, hanya karena salah jalan.

Sikap Benyamin Davnie harus lebih jelas, mulai langkah pertama dengan mengganti Sekda, Bambang Apul. Terdengar reaksioner, tapi politik itu kan simbol. Kalau sekelas Sekda kiblatnya masih kepada raja lama yang telah kalah, maka raja baru akan marah. Hal tersebut, biasa dalam politik di Indonesia. Meskipun wajah marahnya bisa dalam bentuk senyum yang paling manis.

Orang – Orang di sekitar Walikota harus lebih cakap membaca situasi. Ikuti arah anginnya. Siapkan operasi – operasi kecil untuk mulai mengganti simbol – simbol lama. Ini bisa dimulai dari pergantian ketua Kadin, yang tampaknya gagal merangkul semua kalangan pengusaha di Tangsel. Bisa dilanjutkan dengan mengganti pimpinan karang taruna, HIPMI hingga KNPI. Singkatnya, karpet merah untuk penguasa baru. Kelihaian ini diperlukan untuk melindungi Walikota dari kasus hukum di kemudian hari.

Sepertinya akhir dari kasus ini hanya akan menyasar pejabat kecil, yang tidak terlibat aktif terhadap kegiatan politik pimpinan. Namun, pengorbanannya diperlukan untuk menutup akhir cerita.