
JAKARTA, Sabtu 15 Agustus 2026 — Sekitar seribu jamaah memadati Warung Kopi Ciganjur (Warkocig), Jakarta Selatan, dalam kegiatan Pemuda Jakarta Bersholawat yang digelar Majelis Nurul Musthofa bersama Pemuda Kaum Betawi.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pembinaan sekaligus respons sosial-keagamaan menyusul kontroversi penggunaan Surat Ad-Dhuha dalam sebuah tantangan yang dikaitkan dengan pemberian minuman keras pada festival musik The Sounds Project di kawasan Ancol, Jakarta Utara.
Alih-alih menggunakan pendekatan konfrontatif, penyelenggara memilih menghadirkan kegiatan yang menempatkan sholawat, Al-Qur’an, dan pembinaan generasi muda sebagai pusat acara.
Khalifah Nurul Musthofa, Al Habib Athos Abdullah bin Sayyidil Walid Al Habib Hasan bin Ja’far Assegaf, menyampaikan kritik melalui sebuah sesi yang dikemas dengan tema “Merebut Kembali Ad-Dhuha”.
Di hadapan jamaah, ia mengajak para pemuda membaca Surat Ad-Dhuha dengan tartil. Bagi peserta yang mampu melafalkannya dengan baik, disiapkan hadiah sebagai bentuk apresiasi.
“Ya akhi, tadi kita dengar bersama. Di sana, Ad-Dhuha ditukar dengan sebotol miras. Siapa yang mampu melafalkan Surat Ad-Dhuha dengan tartil akan mendapat hadiah, bukan botol, bukan yang haram, tapi rezeki yang halal dan berkah,” kata Al Habib Athos.
Tiga pemuda kemudian maju dan melafalkan Surat Ad-Dhuha di hadapan jamaah. Setelah menyelesaikan bacaannya, mereka menerima hadiah secara langsung.
Momen tersebut menjadi simbol bahwa respons terhadap persoalan moral generasi muda dapat dilakukan melalui pendekatan yang membangun. Ayat suci tidak ditempatkan sebagai bagian dari kontroversi, tetapi dikembalikan ke ruang pembelajaran dan penguatan spiritual.
Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi, H. Masykur Isnan, SH., MH., mengatakan pihaknya memilih jalur pembinaan melalui pendekatan kultural dalam menghadapi berbagai persoalan yang menyentuh generasi muda.
“Kami di Pemuda Kaum Betawi memilih jalan yang lain. Bukan jalan grebek, bukan jalan bentak-bentak, bukan jalan yang justru menambah kegaduhan. Cara-cara seperti itu, dengan segala hormat, belum tentu menyentuh hati pemuda hari ini,” ujarnya.
Menurut Masykur, tradisi majelis, pengajian, dan sholawat memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Betawi sehingga dapat menjadi salah satu sarana membangun karakter anak muda.
“Kami memilih jalan majelis. Jalan sholawat. Jalan mengaji. Karena pemuda Betawi itu dari dulu dibesarkan di majelis, bukan di jalanan. Kami bergerak sesuai wataknya orang Betawi, tegas tapi santun, tegur tapi rangkul,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa persoalan hukum tetap harus diserahkan kepada aparat penegak hukum. Di sisi lain, organisasi kepemudaan memiliki peran untuk mencegah generasi muda semakin jauh dari nilai-nilai agama.
“Yang salah tetap harus ditegakkan hukumnya oleh aparat, tapi tugas kami merawat yang belum rusak, dan memanggil pulang yang sudah tergelincir,” ucapnya.
Masykur menyampaikan bahwa Pemuda Jakarta Bersholawat tidak dimaksudkan sebagai kegiatan sesaat. Pemuda Kaum Betawi berkomitmen melanjutkan kerja pembinaan bersama Majelis Nurul Musthofa dan berbagai majelis lainnya di Jakarta.
Menurut dia, generasi muda membutuhkan lingkungan yang dapat menjadi tempat untuk belajar agama, berdialog, berkegiatan sosial, serta mendapatkan bimbingan dari guru dan ulama.
Rangkaian kegiatan di Warkocig kemudian dilanjutkan dengan lantunan Mahalul Qiyam. Para jamaah berdiri dan bersholawat bersama dalam suasana yang khidmat.
Dari kegiatan tersebut, pesan yang muncul bukan hanya soal kritik terhadap sebuah peristiwa, tetapi juga pentingnya membangun ekosistem pembinaan anak muda.
Bagi Pemuda Kaum Betawi dan Majelis Nurul Musthofa, menjaga masa depan Jakarta membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Pemerintah, masyarakat, organisasi kepemudaan, tokoh agama, serta keluarga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi muda berkarakter.
Kegiatan Pemuda Jakarta Bersholawat menjadi salah satu bentuk gerakan masyarakat berbasis keagamaan dan budaya yang diarahkan untuk memperkuat moral generasi muda sekaligus menjaga tradisi positif yang telah berkembang di Jakarta.