banner 970x250
banner 970x250

ISW Nilai Norman Joesoef Berpotensi Perkuat Arah Kebijakan Industri Pertahanan Nasional

Redaktur Pelaksana
8 Agu 2026 16:22
Berita 0
4 menit membaca

JAKARTA, SUARAGOVERNMENT.COM – Wacana penguatan industri pertahanan nasional kembali mendapat perhatian. Indonesia Strategic Watch (ISW) menilai Norman Joesoef memiliki pengalaman yang dapat menjadi modal strategis dalam memperkuat kebijakan pertahanan, khususnya pada aspek industri, teknologi, dan kerja sama internasional.

Koordinator Nasional ISW, Samuel Tampubolon, mengatakan tantangan pertahanan Indonesia ke depan tidak hanya berkaitan dengan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga menyangkut kemampuan negara membangun ekosistem industri pertahanan yang mandiri dan berkelanjutan.

Menurut Samuel, Indonesia perlu memperbesar kapasitas nasional agar tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi pertahanan dari negara lain.

Penguatan industri dalam negeri, riset, sumber daya manusia, serta transfer teknologi dinilai harus menjadi bagian penting dari strategi pertahanan nasional.

“ISW mendukung penuh Norman Joesoef. Pengalaman industri, teknologi, dan jejaring internasional yang dimilikinya merupakan modal yang relevan untuk mempercepat transformasi pertahanan Indonesia,” ujar Samuel, Sabtu (8/8/2026).

Pengalaman Industri Jadi Pertimbangan

ISW menyoroti pengalaman Norman dalam membangun Republikorp yang didirikan pada 2013. Perusahaan tersebut sejak awal bergerak dalam sektor industri pertahanan dan pengembangan teknologi serta sumber daya manusia.

Rekam jejak itu dinilai menunjukkan keterlibatan Norman dalam membangun kapasitas industri pertahanan swasta nasional.

Dalam perkembangannya, Republikorp juga membangun hubungan dengan sejumlah perusahaan pertahanan internasional. ISW menyebut jejaring Norman mencakup sejumlah perusahaan strategis dari Turki, India, hingga Uni Emirat Arab.

Di sektor Turki, Norman disebut menjalin komunikasi dengan perusahaan seperti Roketsan dan Aselsan. Jejaring tersebut dikaitkan dengan penjajakan teknologi pertahanan, termasuk sistem rudal dan pertahanan udara.

ISW menilai pengalaman tersebut dapat menjadi bekal dalam membangun diplomasi industri pertahanan yang tidak semata berorientasi pada pembelian alutsista, tetapi juga diarahkan pada peningkatan kemampuan teknologi nasional.

Kerja Sama Internasional Harus Berdampak ke Dalam Negeri

Menurut ISW, kerja sama pertahanan dengan negara lain idealnya memberikan dampak langsung terhadap penguatan industri nasional.

Transfer teknologi, peningkatan kualitas tenaga ahli, riset bersama, pengembangan industri komponen, serta kemampuan produksi di dalam negeri disebut sebagai sejumlah indikator yang perlu diperhatikan dalam setiap kerja sama strategis.

Pandangan tersebut sejalan dengan arah pengembangan industri pertahanan yang menempatkan transfer pengetahuan dan teknologi serta penguatan kemampuan industri nasional sebagai bagian penting dari kemandirian pertahanan.

Norman sendiri dalam rekam jejak profesionalnya menekankan pentingnya teknologi, transfer pengetahuan, lokalisasi produksi, dan kemitraan internasional.

ISW juga menilai diversifikasi mitra internasional penting bagi Indonesia. Dengan memiliki hubungan dengan berbagai pusat industri pertahanan dunia, pemerintah dinilai mempunyai lebih banyak pilihan dalam membangun kerja sama sekaligus memperkuat posisi tawar nasional.

Dorong Teknologi AI dan Sistem Nirawak

Selain industri konvensional, ISW memandang pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap perkembangan teknologi baru dalam sektor pertahanan.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sistem nirawak, teknologi digital, hingga pengembangan kemampuan riset nasional dinilai akan semakin menentukan kekuatan pertahanan di masa mendatang.

Karena itu, apabila Norman Joesoef nantinya memperoleh mandat sebagai Wakil Menteri Pertahanan, ISW berharap pengalaman industrinya dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, perguruan tinggi, lembaga riset, dan institusi pertahanan.

“Jejaring internasional adalah modal awal. Yang lebih penting adalah bagaimana jejaring tersebut diterjemahkan menjadi teknologi, investasi, riset, peningkatan SDM, dan kapasitas industri dalam negeri,” kata Samuel.

Penguatan Diplomasi Pertahanan

ISW turut menyoroti pengalaman Norman dalam membangun jejaring internasional.

Organisasi tersebut menyebut Norman pernah terlibat dalam sejumlah agenda strategis dengan mitra internasional, termasuk dalam hubungan Indonesia dengan Prancis dan India.

Menurut ISW, pengalaman tersebut berpotensi mendukung diplomasi pertahanan apabila diarahkan secara konsisten pada kepentingan nasional.

Namun, ISW menekankan bahwa diplomasi pertahanan harus berjalan beriringan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Setiap kerja sama harus dilakukan secara profesional, transparan, akuntabel, serta menghindari potensi konflik kepentingan.

Kemandirian Pertahanan Jadi Agenda Strategis

ISW berpandangan bahwa pembangunan industri pertahanan tidak dapat dipisahkan dari agenda kedaulatan negara.

Industri pertahanan yang kuat dinilai dapat memberikan manfaat bukan hanya bagi sektor keamanan, tetapi juga bagi pengembangan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, riset, investasi, dan pertumbuhan industri nasional.

Karena itu, ISW berharap figur yang memiliki pengalaman di sektor industri dan teknologi dapat ikut memperkuat proses transformasi kebijakan pertahanan Indonesia.

Apabila Norman Joesoef memperoleh kepercayaan untuk menduduki posisi Wakil Menteri Pertahanan, ISW mendorong sejumlah agenda, antara lain percepatan kemandirian industri pertahanan, penguatan riset dan inovasi, pengembangan AI serta teknologi nirawak, peningkatan kolaborasi pemerintah dengan industri dan perguruan tinggi, serta optimalisasi transfer teknologi.

Pada akhirnya, ISW menyatakan dukungannya terhadap Norman Joesoef dan menilai pengalaman yang dimilikinya dapat menjadi salah satu modal untuk memperkuat diplomasi pertahanan sekaligus mendorong penguasaan teknologi nasional.

ISW berharap penguatan industri pertahanan ke depan tidak hanya diukur dari jumlah alutsista yang berhasil diperoleh, tetapi juga dari sejauh mana Indonesia mampu menguasai teknologi, membangun SDM, memperkuat industri dalam negeri, dan menciptakan kemampuan pertahanan yang semakin mandiri.