banner 970x250
banner 970x250

Tokoh FSPPG KSARBUMUSI Apresiasi Museum Marsinah, Praktisi Hukum Ingatkan Gerakan Buruh Tetap Independen

Redaktur M Filky
18 Mei 2026 16:11
Berita 0
2 menit membaca

Jakarta — Tokoh Federasi Serikat Pekerja Panasonic Gobel KSARBUMUSI, Djoko Wahyudi, mengapresiasi hadirnya Museum Marsinah di era pemerintahan Prabowo Subianto sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan buruh di Indonesia.

Menurut Djoko, kehadiran museum tersebut menjadi simbol penting bahwa negara mulai memberi ruang lebih besar terhadap narasi perjuangan kelas pekerja yang selama ini kerap terpinggirkan.

“Ini bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan buruh. Marsinah bukan hanya simbol keberanian, tetapi pengingat bahwa hak-hak pekerja lahir dari perjuangan panjang,” ujar Djoko Wahyudi, Senin (18/5/2026).

Meski demikian, Djoko mengingatkan bahwa penghormatan terhadap perjuangan Marsinah tidak boleh berhenti pada simbol dan memorial semata. Ia menilai gerakan buruh saat ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding masa lalu.

Karena itu, menurutnya, serikat pekerja harus mampu bertransformasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan industri, teknologi, dan kebutuhan tenaga kerja modern.

“Serikat pekerja hari ini tidak cukup hanya memperjuangkan hak. Kita harus memastikan pekerja punya keterampilan, punya daya saing, dan punya masa depan,” katanya.

Sebagai bentuk transformasi gerakan buruh, Djoko menginisiasi pendirian BLKK Teknik Pendingin FSPPG KSARBUMUSI, sebuah balai latihan kerja komunitas yang fokus pada pengembangan keterampilan teknis di bidang pendingin.

Ia mengatakan, gerakan buruh masa kini perlu bergerak dari pola perjuangan yang semata reaktif menjadi gerakan yang mampu memberdayakan pekerja secara berkelanjutan.

“Gerakan buruh harus naik kelas. Tidak hanya menjadi alat perjuangan, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ujarnya.

Program tersebut, lanjut Djoko, berjalan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk dukungan industri seperti Panasonic Gobel serta sejumlah mitra strategis lainnya.

Sementara itu, Praktisi Ketenagakerjaan Masykur Isnan menilai Marsinah merupakan simbol idealisme perjuangan kelas buruh yang lahir dari semangat melawan penindasan, bukan kepentingan pragmatis.

“Marsinah hidup dan dihidupkan oleh api perlawanan terhadap penindasan. Nilai-nilai perjuangannya hari ini berbicara tentang kebijakan publik yang melindungi, mendorong keberlanjutan usaha, pertumbuhan ekonomi, dan keadilan kesejahteraan,” ujar Masykur.