
Jakarta – Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI terkait isu ojek online (ojol) di Hotel Redtop, Pecenongan, Jakarta Pusat, Kamis (24/7/2025), nyaris ricuh. Ketegangan terjadi antara Unit Respon Cepat (URC) Ojol dan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai korban aplikator.
FGD tersebut awalnya dijadwalkan pada 8 Juli, kemudian ditunda ke 15 dan 22 Juli, sebelum akhirnya terlaksana pada 24 Juli 2025. Acara ini menghadirkan perwakilan dari berbagai instansi, lembaga, stakeholder, serta aliansi ojek online yang pro dan kontra terhadap pemotongan 20% oleh aplikator.
Namun, sejak awal suasana forum sudah terlihat tidak kondusif.
“Baru mulai saja sudah banyak interupsi dari kelompok yang mengklaim sebagai korban aplikator. Bahkan ada yang dari komunitas R4 (kendaraan roda empat) yang memaksa ikut padahal forum ini khusus untuk ojol. Moderator juga terkesan tidak adil karena kami dari URC sudah angkat tangan berkali-kali tapi tidak diberi waktu bicara,” kata Humas URC, Erna, saat ditemui usai acara.
Ketua Umum Masyarakat Ojek Online Seluruh Indonesia (MOOSI) yang juga juru bicara URC, Danny Stephanus, menyebut FGD kali ini tidak berjalan tertib akibat lemahnya pengawasan panitia.
“Banyak peserta yang masuk tanpa undangan resmi, bahkan ada yang mengaku dari URC padahal bukan. Tujuannya cuma untuk makan dan buat keributan. Sementara ada yang seharusnya tidak bisa masuk justru lolos karena mengaku-ngaku,” ujar Danny.
Menurutnya, pihak yang mengklaim sebagai korban aplikator bahkan sempat membuat keributan karena ingin bicara padahal tidak memiliki akun ojol aktif.
“Sudah jelas aturan forum, hanya yang punya akun ojol yang boleh bicara. Tapi ada yang maksa naik mimbar, lalu malah teriak-teriak nyuruh Kemenhub keluar dari ruangan. Lucu aja, masa yang bikin acara disuruh keluar? Pakai otak lah,” ucap Danny sambil tertawa.
Ketegangan memuncak saat acara hampir selesai. Seorang anggota URC disebut mendapat perlakuan provokatif dari salah satu peserta yang mengaku sebagai korban aplikator. Adu mulut pun terjadi hingga memicu kemarahan massa URC yang menunggu di luar hotel.
Puluhan anggota URC mulai berkumpul di sekitar hotel, terbagi dalam tiga titik: depan hotel, perempatan lampu merah Pecenongan, dan basecamp ojol Govinda di dekat halte Juanda. Situasi makin panas hingga aparat kepolisian menurunkan dua kompi personel untuk menenangkan massa.
“URC itu Unit Respon Cepat, ya sesuai namanya. Begitu ada kabar, dalam hitungan menit mereka datang ratusan. Yang lucu, beredar kabar di grup WhatsApp kalau kelompok Garda (kelompok lain yang hadir di FGD) nggak berani keluar hotel dan minta dikawal ke sekretariat. Padahal biasanya mereka ngaku singa, giliran ketemu URC jadi anak ayam,” sindir Danny.
Danny menegaskan, URC selama ini dikenal sebagai kelompok yang fokus pada aksi sosial, bukan aksi turun ke jalan. Namun kehadiran mereka di FGD kali ini menjadi sinyal bahwa kondisi perojolan Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
“URC selama ini nggak pernah ikut demo. Tapi kalau sampai mereka turun, berarti ini darurat. Sudah terlalu banyak oknum yang mempolitisasi perjuangan ojol demi kepentingan pribadi,” ujarnya.
Dari pantauan di lapangan, kericuhan yang terjadi diduga sudah direncanakan oleh pihak-pihak tertentu. Narasi-narasi ajakan “menggeruduk” FGD Kemenhub bahkan sempat tersebar di sejumlah grup WhatsApp ojol sebelum acara digelar.
“Ada indikasi kuat ini memang disengaja. Banyak peserta dadakan yang hadir tanpa undangan, bersikap arogan dan memicu konflik horizontal. Tapi pada akhirnya, setelah bikin ribut, mereka malah takut keluar hotel meskipun sudah dijaga aparat,” tutup Danny.
Peserta FGD berharap ke depan Kemenhub bisa lebih ketat dalam penyelenggaraan forum serupa, mulai dari daftar undangan, sistem seleksi peserta, hingga mekanisme forum agar tidak disusupi agenda terselubung.