banner 970x250
banner 970x250

Vaksin Tuberkulosis M72 Siap Masuk Indonesia, Ini Lima Isu Strategis yang Perlu Diperhatikan

Redaktur M Filky
9 Mei 2025 20:44
Berita 0
3 menit membaca

Jakarta, 9 Mei 2025 — Vaksin M72/AS01E yang dikembangkan oleh GSK dengan dukungan Bill & Melinda Gates Foundation dinilai sebagai salah satu inovasi paling menjanjikan dalam upaya global memberantas tuberkulosis (TB). Meski demikian, sebelum vaksin ini dapat digunakan secara luas di Indonesia, sejumlah isu strategis perlu dikaji secara menyeluruh.

Dalam laporan resmi Tim Kajian Kedokteran Militer (Perdokmil), disebutkan bahwa terdapat lima isu utama yang harus menjadi perhatian agar vaksin M72 dapat diterapkan dengan aman, diterima oleh masyarakat, serta berkelanjutan dari sisi teknologi dan produksi.

Studi praklinis pada hewan menunjukkan bahwa vaksin M72/AS01E tidak menyebabkan toksisitas sistemik dan tidak bersifat karsinogenik. Efek samping lokal seperti nyeri dan pembengkakan di area suntikan tergolong ringan dan bersifat sementara. Namun, Perdokmil menekankan perlunya pemantauan ketat pada uji klinis fase III di Indonesia, mengingat keragaman genetik dan kondisi komorbid seperti malaria dan TB resisten. Penelitian harus melibatkan subjek yang sehat sesuai kriteria inklusi, bukan pasien aktif. Perdokmil juga merekomendasikan integrasi sistem pharmacovigilance antara TNI dan Kementerian Kesehatan untuk mendeteksi efek samping secara dini.

Dari aspek kehalalan, antigen M72 diproduksi dalam bakteri nonpatogen E. coli dan tidak mengandung bahan haram. Adjuvan AS01E terdiri dari QS-21, yang berasal dari ekstrak tumbuhan Quillaja saponaria, serta MPL, turunan lipid bakteri yang diproses secara kimiawi tanpa melibatkan enzim hewani. Meskipun demikian, proses produksi vaksin tetap perlu diaudit secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada kontaminasi. Kolaborasi dengan LPPOM MUI untuk sertifikasi halal sejak tahap produksi awal menjadi salah satu rekomendasi utama. Jika terdapat kekhawatiran, dapat dipertimbangkan penggunaan adjuvan alternatif berbasis nabati seperti Matrix-M.

Pemantauan efektivitas vaksin juga menjadi perhatian melalui penggunaan biomarker imunologi, termasuk sel T CD4+ dan sitokin IFN-γ/TNF-α. Penelitian yang didanai Bill & Melinda Gates Foundation pada 2018 menunjukkan adanya signature transcriptomic yang mampu memprediksi tingkat perlindungan dari vaksin. TNI disarankan dapat mengambil peran dalam riset biomarker untuk memantau respons vaksin di populasi dengan kondisi nutrisi dan endemisitas berbeda, serta mengembangkan metode diagnostik TB pascavaksinasi.

Tantangan lainnya adalah kemandirian produksi dalam negeri. Saat ini, antigen dan adjuvan AS01E masih diproduksi di Belgia. Bio Farma perlu meningkatkan kapasitas produksi antigen rekombinan dalam skala besar. Negosiasi alih teknologi dengan GSK dan mitra internasional menjadi strategi penting untuk mendukung produksi lokal. Selain itu, pengembangan adjuvan mandiri berbasis platform Alum atau Emulsi yang telah dikuasai dalam negeri perlu didorong untuk menekan ketergantungan impor.

Isu terakhir adalah alih teknologi yang berkelanjutan melalui kemitraan global. Indonesia dapat meniru model sukses transfer teknologi vaksin COVID-19 antara Sinovac dan Bio Farma. Pelatihan SDM di fasilitas GSK serta investasi pada teknologi produksi seperti bioreaktor dan sistem pemurnian menjadi langkah krusial. Di sisi lain, Litbangkes TNI dan Labiovak Puskesad memiliki peran strategis dalam riset formulasi adjuvan lokal dan pengujian stabilitas vaksin untuk kondisi tropis.

Perdokmil menegaskan bahwa vaksin M72 tidak hanya berfungsi sebagai produk medis, tetapi juga merupakan proyek strategis nasional dalam memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia. Lima aspek penting yang perlu diperhatikan mencakup keselamatan pasien, kehalalan, pemanfaatan biomarker, kemandirian produksi, dan keberhasilan alih teknologi.

“Vaksin M72 bukan hanya produk medis, tapi proyek strategis ketahanan kesehatan nasional. Si Vis Pacem, Para Medicum!”, Tim Kajian Perdokmil.