
JAKARTA, 13 April 2025 – Musyawarah Perwakilan Anggota ke-10 Kerukunan Keluarga Kawanua (MPA X KKK) yang diselenggarakan pada 11 dan 12 April 2025 di Anjungan Sulut TMII, Jakarta, menghadirkan semangat kebersamaan yang sangat luar biasa dan penuh antusias diantara warga Kawanua asal Tanah Minahasa di Sulawesi Utara, yang berada di tanah perantauan (tanah pasengkotan, bahasa Minahasa).
Kegiatan ini menjadi ajang refleksi sekaligus perwujudan rasa syukur atas penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa dalam setiap langkah dan kegiatan warga Kawanua dalam pembangunan Sulut, sekaligus momentum strategis memperkuat kolaborasi antar warga Kawanua untuk kemajuan Provinsi Sulawesi Utara.

Foto : Jan Marinka ,Nova rumondor Ronny Sompie, Angelica Tengker dan Teichi kolopita
Salah satu momen penting dalam MPA X KKK adalah terpilihnya kembali Angelica Tengker sebagai Ketua Umum DPP KKK periode 2025–2030.
Keputusan ini mencerminkan kepercayaan warga Kawanua dalam suasana kekeluargaan terhadap kepemimpinannya, sekaligus wujud apresiasi atas kontribusinya selama ini bagi organisasi dan warga Kawanua di tanah perantauan.
Yang menarik, dukungan terhadap Angelica juga datang dari pesaingnya dalam pemilihan.
Dalam sikap dewasa dan penuh jiwa besar, dua orang calon ketum yang diusung oleh pendukungnya menarik diri saat mereka bermusyawarah sebelum dilakukan pemilihan Ketua Umum DPP KKK secara Voting.
Dukungan moral juga datang dari Irjen Pol Purn Dr Tommy Watuliu, M.Si, saat memberikan sambutan setelah selesai Pemilihan secara Voting, walaupun belum terpilih dalam sebuah kompetisi yang diselenggarakan secara tertutup oleh setiap peserta MPA X KKK, namun disaksikan secara terbuka di depan seluruh peserta, Tommy mengingatkan pentingnya proses dalam pemilihan Ketum DPP KKK secara Voting yang sukses diselenggarakan dengan baik dan penuh kekeluargaan.
Beliau juga mengajak seluruh warga kawanua termasuk yang tidak memilih Angelica Tengker untuk mendukung kepemimpinan Ketum DPP KKK terpilih tersebut dalam periode kepemimpinan tahun 2025 – 2030.
Perjalanan ke arah sukses perlu proses yang tidak bisa diabaikan. Pengorbanan selama mengarungi dan menghadapi tantangan selama proses, itulah latihan mental dan psikis yang sangat kuat bagi organisasi Kerukunan Keluarga Kawanua.
Apapun tantangan yang dihadapi oleh DPP KKK ke depan, perlu senantiasa melibatkan Tuhan Yang Maha Pengasih, karena hanya Dia yang selalu bisa diandalkan untuk memberi kekuatan dan kemampuan bagi seluruh Pengurus DPP KKK.
Dalam forum ini, Irjen Pol (Purn) Ronny F. Sompie, selaku salah satu diantara sembilan orang Pimpinan Sidang Pleno dalam MPA X KKK, juga menegaskan bahwa makna kerukunan bukan semata soal identitas, tetapi kontribusi aktif untuk kampung halaman di Tanah Minahasa, Sulawesi Utara.
“Kerukunan ini bukan hanya soal mengumpulkan orang-orang dari satu suku atau etnis, tetapi lebih kepada bagaimana kita semua bisa berkontribusi untuk kemajuan daerah tercinta, Sulawesi Utara,” ungkapnya.
Sementara itu, tokoh Kawanua Denny Tumuju, yang juga merupakan Pimpinan Sidang Pleno dalam MPA X KKK, menegaskan bahwa seluruh proses dalam MPA X telah berjalan transparan dan sah. Ia meminta semua pihak untuk menghentikan upaya membangun opini negatif yang bisa merusak semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang terbangun selama proses berlangsungnya MPA X KKK di Anjungan Sulawesi Utara, TMII.
“Kita semua yakin bahwa setiap langkah yang diambil dalam MPA X KKK sudah melalui proses yang transparan dan penuh pertimbangan,” katanya.
Acara juga dihadiri oleh Gubernur Sulut, Yulius Selvanus bersama Ibu, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap peran warga Kawanua Diaspora dalam pembangunan daerah, sekaligus menekankan pentingnya kerja sama diantara warga Kawanua Diaspora dan pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Keberhasilan MPA X KKK kali ini membuktikan, bahwa pembangunan Sulawesi Utara tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga membutuhkan kontribusi dan hasil kerjasama secara kolektif dari seluruh elemen masyarakat yang mencintai daerahnya. Diantara warga Kawanua dikenal dengan istilah Mapalus (gotong royong).
Semangat gotong royong dan kolaboratif ini diharapkan menjadi energi baru untuk terus mendorong lahirnya ide dan langkah konkret demi Sulut yang lebih baik ke depan.(Hans/Denni)