banner 970x250
banner 970x250

Sagu Kampung Tambat Mulai Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Lokal Papua Selatan (Part 1)

Editor
16 Agu 2026 11:28
4 menit membaca

SUARAGOVERMENT.COM, PAPUA SELATAN — Potensi sagu di Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, mulai diarahkan menuju pengembangan usaha yang lebih terintegrasi. Tidak hanya menghasilkan pati sagu, masyarakat didorong mengembangkan produk olahan, perikanan, pertanian, hingga pemanfaatan limbah untuk memperluas sumber pendapatan.

Upaya tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot IPB University bersama masyarakat Kampung Tambat di kawasan Salor, Papua Selatan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemetaan potensi dan persoalan masyarakat dalam mengembangkan komoditas unggulan di wilayah tersebut. Kehadiran Tim Ekspedisi Patriot IPB University sendiri merupakan bagian dari kolaborasi perguruan tinggi dan Kementerian Transmigrasi dalam mendukung pengembangan kawasan Salor.

Ketua Kampung Tambat, Samuel Haremba, menyambut kehadiran tim tersebut dan berharap pendampingan yang dilakukan dapat membantu masyarakat mengoptimalkan potensi kampung.

“Selama mereka di sini, mereka akan membantu kita,” ujar Samuel.

Sagu Sudah Menjadi Bagian Kehidupan Warga

Sagu bukan komoditas baru bagi masyarakat Kampung Tambat. Pengetahuan mengenai tanaman dan pengolahannya telah diwariskan antargenerasi.

Namun, persoalan muncul ketika masyarakat ingin membawa sagu dari sekadar bahan pangan menjadi produk ekonomi dengan nilai tambah lebih tinggi.

Salah seorang warga, Mama Siti, mengatakan masyarakat sebenarnya telah memahami sagu sejak lama, tetapi masih membutuhkan pengetahuan mengenai teknik pengolahan lanjutan.

“Kami sudah lama mengenal dan memahami pohon sagu, tetapi masih belum paham terkait pengolahan sagu,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam membangun industri sagu lokal.

Pengembangan teknologi pengolahan sagu di Kampung Tambat sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah kajian sebelumnya mencatat masyarakat telah menggunakan sistem semi-mekanis dalam pengolahan sagu, termasuk pengembangan teknologi pengayakan untuk meningkatkan mutu pati.

Produksi Terkendala Air dan Pasar

Dalam FGD, masyarakat mengungkapkan bahwa aktivitas pengolahan sagu masih menghadapi sejumlah persoalan. Saat ini sekitar tujuh warga masih aktif mengolah sagu menggunakan kombinasi cara manual dan mesin.

Penggunaan mesin telah membantu mempercepat proses produksi. Mesin parut mulai dimanfaatkan sejak 2013, kemudian kapasitas pengolahan ditingkatkan dengan mesin yang lebih besar pada 2019.

Produk sagu basah kemudian dipasarkan ke sejumlah pasar, antara lain Pasar Wamanggu dan Ampera. Harga yang diterima masyarakat berada di kisaran Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per karung.

Persoalannya, produksi tidak selalu berlangsung secara rutin. Permintaan pasar yang belum stabil serta keterbatasan air membuat masyarakat tidak dapat memproduksi sagu secara maksimal.

Saat musim kemarau, kebutuhan air untuk proses pengolahan menjadi persoalan serius. Padahal, pengolahan sagu membutuhkan pasokan air yang cukup.

Kondisi tersebut juga berdampak terhadap pengembangan budidaya ikan lele yang mulai dilakukan masyarakat. Biaya pakan dan keterbatasan sumber air menjadi kendala tambahan.

Persoalan air untuk pengolahan sagu di Kampung Tambat juga telah menjadi perhatian dalam berbagai kajian sebelumnya, mengingat proses produksi sagu membutuhkan air dalam jumlah besar.

Dari Sagu ke Produk Bernilai Tambah

Masyarakat Kampung Tambat tidak hanya memproduksi pati sagu. Sejumlah produk turunan mulai dikembangkan, seperti sagu keju, sagu gulung dan pentol bakso berbahan tepung sagu.

Namun, keterbatasan peralatan dan akses pemasaran membuat inovasi tersebut belum berkembang secara optimal.

Di sektor lain, warga menanam sawi dan ubi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus dijual. Budidaya lele juga menjadi alternatif usaha yang berpotensi dikembangkan apabila persoalan air dan biaya produksi dapat diatasi.

Peluang lainnya berasal dari limbah pengolahan sagu. Ampas sagu dapat dikembangkan menjadi bahan pendukung budidaya jamur maupun pakan ternak.

Pemanfaatan limbah tersebut berpotensi membentuk pola ekonomi sirkular, di mana sisa produksi tidak berhenti sebagai limbah tetapi dapat kembali memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Kajian mengenai kelompok pengolah sagu di Kampung Tambat sebelumnya juga telah mengidentifikasi potensi pemanfaatan limbah sagu sebagai bahan untuk pengembangan pupuk organik.

Ekosistem Usaha Jadi Kebutuhan

Dari berbagai persoalan tersebut, masyarakat menyampaikan sejumlah kebutuhan yang dinilai penting untuk mendukung pengembangan usaha.

Di antaranya peralatan pengolahan sagu, pompa dan selang air, bibit tanaman pangan, penguatan budidaya lele, serta dukungan pemasaran.

Bagi masyarakat, persoalan utama bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana memastikan hasil produksi memiliki pasar dan memberikan pendapatan yang lebih stabil.

Karena itu, pengembangan sagu di Kampung Tambat membutuhkan pendekatan yang menghubungkan seluruh rantai usaha, mulai dari bahan baku, produksi, pengolahan, diversifikasi produk, pemanfaatan limbah, hingga pemasaran.

Potensi tersebut sebenarnya cukup besar. Data pemerintah sebelumnya mencatat Kampung Tambat memiliki kelompok pengolahan tepung sagu dan telah mendapatkan dukungan pengembangan industri pangan lokal. Pemerintah Kabupaten Merauke juga pernah memberikan bantuan kemasan kepada kelompok pengolahan sagu Dwitrap untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual produk.

Dengan dukungan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, sarana produksi dan kepastian pasar, sagu dapat dikembangkan menjadi salah satu fondasi ekonomi masyarakat Kampung Tambat.

Bagi Papua Selatan, pengembangan tersebut bukan sekadar persoalan komoditas. Sagu memiliki posisi penting sebagai pangan lokal sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

Karena itu, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi dan pelaku pasar menjadi penting agar potensi sagu di Kampung Tambat tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi berkembang menjadi industri pangan lokal yang mampu menciptakan nilai tambah dan membuka peluang ekonomi baru.