
SUARA GOVERNMENT, Jakarta — Bencana longsor dan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra menimbulkan dampak serius. Salah satu daerah terdampak parah adalah Desa Sibio Bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.
Hingga kini, desa tersebut masih terisolasi dan minim bantuan akibat rusaknya akses menuju lokasi.
Menanggapi kondisi tersebut, Relawan Fajar Dermawan Laia yang dikomandoi DR Filpan Fajar Dermawan Laia selaku Ketua Umum Himpunan Marga Laia Indonesia (HIMLI) menyatakan siap turun langsung ke lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Langkah cepat tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Umum Persatuan Wartawan Reaksi Cepat (PWRC), Kornelius Wau.
Ia menilai kepedulian Filpan dan jajaran HIMLI sebagai bentuk nyata tanggung jawab sosial terhadap korban bencana, khususnya di Desa Sibio Bio.
“Kami dari PWRC sangat mengapresiasi inisiatif Pak Filpan dan tim HIMLI yang mau turun langsung ke daerah terisolir. Ini bukan hanya soal bantuan materi, tapi juga soal empati dan keberanian menembus keterbatasan demi kemanusiaan,” ujar Kornelius Wau dalam keterangannya.
Menurut Kornelius, gerak cepat para relawan menjadi bukti bahwa solidaritas kemanusiaan masih kuat di tengah masyarakat.
Ia berharap aksi tersebut dapat menggerakkan lebih banyak pihak untuk ikut peduli dan membantu warga terdampak.
“Kami mengajak semua elemen, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat luas, untuk bersama-sama membantu saudara-saudara kita di Sibio Bio,” tambahnya.
Sementara itu, Filpan Fajar Dermawan Laia mengungkapkan bahwa kondisi warga di Desa Sibio Bio masih sangat memprihatinkan.
Berdasarkan pendataan relawan, sebanyak 272 kepala keluarga (KK) terdampak bencana tersebut. Sebagian warga kehilangan tempat tinggal, sementara puluhan rumah lainnya dilaporkan rusak berat.
“Warga masih sangat minim menerima bantuan karena akses menuju desa rusak parah. Tim kami akan bergerak langsung untuk menyalurkan bantuan,” kata Filpan saat ditemui di Batam Center, Batam, Selasa (7/1).
Ia menjelaskan, masyarakat setempat saat ini harus bertahan dengan keterbatasan pangan, tempat berlindung, serta pakaian.
Akses menuju desa dinilai sangat berat karena jalur darat harus menyeberangi sungai, sementara jembatan utama dilaporkan runtuh.
“Warga bersama relawan harus berjalan kaki sekitar 1,5 hingga 2 jam dari ujung muara sungai untuk mencapai permukiman,” jelasnya.
Filpan pun mengajak masyarakat Batam dan berbagai pihak lainnya untuk turut membantu misi kemanusiaan tersebut.
“Kami mengharapkan dukungan, bantuan, dan doa dari semua pihak. Bagi masyarakat yang ingin membantu, bisa langsung menghubungi tim kami. Seluruh bantuan akan disalurkan secara maksimal dan transparan,” tutupnya. (F/L)