
Oleh: Muhar Syahdi Difinubun
Direktur Eksekutif Sera Institute
Jakarta, 19 Januari 2024 – Riuhnya perbincangan di media sosial tentang ‘Tete Momo’ di negeri Christina Martha Tiahahu sebenarnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih sering memulangkan ingatan kolektif pada cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Di balik perbincangan tersebut, terselip sosok Johannes Leimena—atau akrab disapa Om Jo—salah satu pahlawan bangsa yang berasal dari Timur Nusantara dan memiliki kontribusi besar dalam membangun negeri ini.
Johannes Leimena (1905-1977), lahir di Ambon pada masa penjajahan kolonial. Ia tumbuh di tengah nilai-nilai kebersamaan dan kolektivitas yang khas. Pendidikan kedokterannya di STOVIA hingga de Geneeskunde, Batavia, tidak hanya mencetaknya sebagai dokter yang andal tetapi juga membangkitkan kesadarannya terhadap ketimpangan sosial akibat penjajahan. Sebagai seorang dokter yang humanis, Leimena menggagas lahirnya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), yang menjadi warisan besar bagi akses layanan kesehatan di negeri ini.
Di panggung politik, Leimena berperan aktif dalam membangun fondasi negara yang inklusif. Sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) hingga menjadi Wakil Perdana Menteri, kontribusinya menyentuh berbagai bidang. Ia dikenal sebagai tokoh moderat yang mengedepankan persatuan tanpa melihat latar belakang suku atau agama. Sebagai seorang Kristen yang taat, Leimena menunjukkan bagaimana keyakinan beragama dapat berdiri berdampingan dengan semangat kebangsaan dan toleransi.
Sayangnya, kontribusi besar Leimena kerap terlupakan. Namanya jarang disebut dalam deretan tokoh pahlawan nasional, mungkin karena ia tidak membangun citra heroik atau mendramatisasi perjuangannya. Ia bekerja diam-diam, menjadikan pengabdiannya sebagai tanggung jawab moral, bukan sarana mencari pengakuan. Fenomena ini semakin ironis ketika patung Om Jo menjadi bahan ejekan, mencerminkan lemahnya literasi sejarah di kalangan generasi muda.
Situasi ini mencerminkan krisis identitas nasional yang kian parah. Kurangnya kesadaran akan sejarah membuat warisan nilai-nilai kebangsaan sering terabaikan. Di Maluku, konflik antarkelompok dan kesewenangan oknum aparat juga menjadi potret bagaimana bangsa ini kehilangan esensi toleransi yang diwariskan oleh para pendahulu.
Johannes Leimena adalah simbol perjuangan dari Timur Nusantara, yang mengajarkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan penghalang. Ia adalah sosok yang menunjukkan bahwa kebangsaan dibangun oleh kerja nyata dan kontribusi lintas sektoral. Saat persatuan dan toleransi bangsa ini semakin diuji, semangat Om Jo harus menjadi inspirasi untuk kembali membangun solidaritas.
Sebagai bangsa, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan menghormati nilai-nilai yang diwariskannya. Johannes Leimena adalah pengingat bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu tangan atau satu wilayah, melainkan oleh kerjasama berbagai elemen, termasuk dari Timur Nusantara.