
SUARA GOVERNMENT – Dewan Pengurus Pusat Aliansi Mahasiswa Muslim Maluku (DPP Al-Mulk) memberi jempol kepada Gus Miftah atau Miftah Sunandar Habibburahman. Menurut Fauzan Ohorella, Ketua Umum DPP Al-Mulk, bahwa pernyataan untuk mundur sebagai Utusan Khusus Presiden telah menunjukan jiwa besar dalam mengemban amanah sebagai pejabat publik.
“Kami sangat apresiasi jiwa besar Gus Miftah yang menyatakan untuk mundur dari Utsus Presiden Prabowo bidang Keagamaan. Ini contoh baik yang di berikan kepada publik, untuk berani dalam menanggung resiko.” Ujar Fauzan kepada wartawan (6/12/12).
Aktivis pelajar asal Maluku itu juga mengatakan, bahwa dalam soal Keagamaan ini, penting di emban oleh figur yang punya pemahaman yang moderat. Sebab menurut Fauzan, Indonesia ini memiliki kultur dan budaya plural. Sehingga penting figur pengganti Gus Miftah adalah orang dengan keilmuan agama dan sosial yang moderatisme.
“Karena negara kita ini adalah bangsa yang plural, ada bermacam suku, ras dan agama. Jadi kandidat pengganti Utsus Presiden Bidang Keagaamaan harus figur yang punya rekam jejak moderat, baik secara kegamaan dan sosial.” Tambahnya
Dia menambahkan lagi, bahwa ada salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Cak Islah Bahrawi yang merupakan figur, yang layak di pertimbangkan untuk mengisi posisi bidang Keagamaan Utusan Khusus Presiden.
“Sapaan kami Cak Islah, karena beliau tidak mau di panggil Gus, padahal salah satu tokoh juga di NU dan punya irisan kuat dengan tokoh-tokoh NU terdahulu. Menurut kami Presiden Prabowo bisa pertimbangkan usulan kami ini.” Tandasnya
Fauzan menuturkan, bahwa Cak Islah memiliki literasi kegamaan yang moderat. Hal tersebut dia sampaikan dengan melihat bagaimana (Islah Bahrawi) menyampaikan pesan-pesan yang moderat dalam berbagai kesempatan.
“Penglihatan saya begitu, baik dalam diskusi literasi formal atau non-formal, beliau (Islah) selalu menekankan pentingnya sikap moderat terhadap sesama manusia, tidak peduli suku, ras atau agama”{.}