banner 970x250
banner 970x250

Mudah Resign, Sulit Bertahan: Potret Dunia Kerja Generasi Saat Ini

Redaktur Pelaksana
30 Mei 2026 21:20
4 menit membaca

Oleh: Ahmad Syarifudin Sukasih, S.M., M.M.

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap pola pikir dan perilaku generasi muda dalam dunia kerja.

Kemudahan akses informasi melalui media sosial, platform pencarian kerja, hingga konten motivasi karier membuat banyak orang semakin bebas menentukan pilihan pekerjaan yang dianggap ideal, bergengsi, dan memiliki penghasilan tinggi.

Namun di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena baru di dunia ketenagakerjaan: mudah masuk kerja, tetapi sulit bertahan.

Fenomena resign dalam waktu singkat atau job hopping kini semakin sering terjadi, khususnya pada generasi muda. Banyak pekerja berpindah-pindah pekerjaan hanya dalam hitungan bulan karena merasa pekerjaan tidak sesuai ekspektasi, lingkungan kerja dianggap tidak nyaman, tekanan kerja terlalu tinggi, atau penghasilan yang dirasa belum memenuhi harapan.

Di satu sisi, perkembangan zaman memang menuntut generasi muda untuk lebih adaptif dan berani mengambil peluang baru.

Namun di sisi lain, tidak sedikit yang memilih pekerjaan hanya karena mengikuti tren media sosial atau melihat kesuksesan orang lain tanpa memahami kemampuan dan kesiapan diri sendiri.

Kondisi ini sebenarnya menjadi tantangan serius bagi dunia sumber daya manusia di Indonesia. Perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga mental bertahan, kemampuan beradaptasi, disiplin, dan komitmen terhadap pekerjaan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Februari 2025 berada di angka 4,76 persen dengan jumlah angkatan kerja mencapai 153,05 juta orang.

Data tersebut menunjukkan bahwa persaingan dunia kerja masih cukup tinggi dan tidak semua pencari kerja dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya.

Ironisnya, di tengah sulitnya persaingan kerja, fenomena resign cepat justru semakin meningkat. Penelitian mengenai job hopping Generasi Z di Indonesia menyebutkan bahwa kecenderungan berpindah kerja dipengaruhi oleh kepuasan kerja, dukungan perusahaan, hingga ekspektasi terhadap keseimbangan hidup dan pekerjaan (work life balance).

Realita di lapangan juga menunjukkan banyak pekerja muda belum siap menghadapi tekanan kerja yang sesungguhnya. Misalnya, seseorang tertarik bekerja di industri kreatif karena terlihat fleksibel dan modern di media sosial.

Namun ketika dihadapkan pada target pekerjaan, revisi tanpa henti, tuntutan kreativitas, dan jam kerja yang dinamis, tidak sedikit yang akhirnya memilih mengundurkan diri.

Fenomena tersebut bahkan banyak dibahas masyarakat di media sosial dan forum digital. Salah satu pengalaman pekerja yang ramai diperbincangkan di forum Reddit Indonesia menceritakan bahwa beberapa pekerja muda memilih resign kurang dari enam bulan karena tidak siap menghadapi sistem kerja shift dan tekanan pekerjaan di lapangan.

Di sisi lain, ada pula pekerja yang resign bukan semata-mata karena tidak mampu bertahan, tetapi karena perusahaan juga belum mampu menciptakan lingkungan kerja yang sehat.

Beberapa pekerja mengeluhkan manajemen yang tidak profesional, ketidakjelasan job description, hingga minimnya apresiasi terhadap karyawan.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan dunia kerja saat ini bukan hanya tentang kualitas pekerja, tetapi juga kesiapan perusahaan dalam mengelola sumber daya manusianya.

Generasi muda saat ini sebenarnya memiliki potensi besar. Mereka cepat belajar teknologi, kreatif, dan memiliki keberanian mencoba hal baru.

Akan tetapi, potensi tersebut perlu diimbangi dengan kesiapan mental, peningkatan kompetensi, pengalaman kerja, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan profesional.

Dunia kerja tidak selalu sesuai dengan apa yang terlihat di media sosial. Gaji besar membutuhkan tanggung jawab besar.

Jabatan tinggi membutuhkan proses panjang. Pekerjaan yang nyaman juga memerlukan kemampuan untuk bertahan menghadapi tekanan dan tantangan.

Karena itu, poin terpenting di era modern ini bukan hanya mengikuti perkembangan zaman atau mengikuti tren pekerjaan yang sedang populer, melainkan bagaimana seseorang mampu terus belajar, meningkatkan keterampilan, serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Pada akhirnya, perusahaan membutuhkan pekerja yang siap berkembang, sementara pekerja juga membutuhkan lingkungan kerja yang sehat dan manusiawi.

Jika keduanya dapat berjalan seimbang, maka dunia kerja Indonesia tidak hanya dipenuhi oleh generasi yang mudah resign, tetapi juga generasi yang mampu bertahan, bertumbuh, dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan bangsa.